BULAN Ramadan juga merupakan tonggak sejarah Islam saat kitab suci Al Quran diturunkan ke bumi menjadi motivasi utama Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Malang menggalang open donation Al Quran dan sedekah uang.
Sejak awal bulan Ramadan, panitia bergerak menggalang donasi dari berbagai donatur di Malang maupun luar kota. Menurut ketua pelaksana Donasi 100 Al Quran, Muhammad Anwar Rizqi Rais, tiga hari menjelang penyebaran donasi Al Quran, berhasil terkumpul lebih dari 100 kitab suci umat Muslim ini.
“Panitia tentu sangat bersyukur dengan donasi yang kami dapatkan dari para donatur. Sungguh di luar ekspektasi kami dan jelas telah melampaui target,” imbuhnya sembari tersenyum lebar.
Ia menambahkan, hingga hari pelaksanaan tiba, Al Quran yang terkumpul mencapai 200-an lebih.Panitia langsung mengemas Al Quran tersebut menjadi beberapa parcel dan sisanya disusun rapi seperti paket.
Jumat, 17 Juni 2016 lalu panitia Donasi 100 Al Quran bergerak menuju target lokasi yang telah direncanakan sebelumnya. Sejak pukul 09.00 WIB, panitia menuju lokasi pertama di Panti Asuhan Mawaddah Warohmah di Bunulrejo, Malang.
Usai bertemu dengan perwakilan panti dan beberapa anak asuh, panitia bergerak menuju Desa Karangwidoro, Dau, Malang. Setelah istirahat sejenak dan menunaikan ibadah salat Jumat, tim bergerak secara konvoi berkeliling di sekitar wilayah desa tersebut.
“Tujuan kami adalah mencari mushala dan masjid yang benar-benar membutuhkan Al Quran dan sering digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan seperti TPQ, mengaji, ataupun tadarus. Alhamdulillah dengan jumlah donasi Al Quran yang terkumpul sangat banyak, jadi bisa menjangkau beberapa mushala di area luar Karangwidoro,” ungkapnya.
Setelah ratusan Al Quran ditebar di beberapa mushala dan masjid, tim panitia menuju salah satu pondok di kawasan Karangwidoro yakni Pondok Pesantren Roudlotun Nasichin. Di pondok tersebut, tim GPAN Malang membagikan donasi Al Quran dan dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama dan salat tarawih berjamaah.
Reportase : Healza Kurnia
Mahasiswa Universitas Negeri Malang
fb.com/healza kurnia
Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
[ tribunnews.com ]
![]() |
| Foto : MCDim_Srt Ags | Kapten CPM H. M. Ali Imam, SH : Ceramah Peringatan Isro' Mi'roj 1437 H Di Aula Korem 084 |
![]() |
| Sertu Che Imron : Pembacaan Ayat Suci Al’Quran Peringatan Isro’ Mi’roj 1437 H |
![]() |
| Kasrem 084/Bhaskara Jaya Letkol Inf Heri Suprapto : Memberikan Sambutan Peringatan Isro’ Mi’roj 1437 H |
![]() |
Foto: Arina Yulistara
|
Audisi Sunsilk Hijab Hunt 2016 hari kedua masih berlangsung hingga saat ini di Gramedia Expo, Jl Basuki Rahmat, Surabaya, Minggu (10/4/2016). Para hijabers Surabaya yang lolos 20 besar dari penyaringan juri internal kemarin, Sabtu (9/4/2016) diuji kembali untuk memilih siapa saja peserta perwakilan dari Surabaya yang akan masuk babak voting.
Salah satu peserta yang tampil hari ini adalah Rizki Desy Wulansari. Rizki mampu memukau juri dengan menunjukkan kebolehannya bela diri jiu jitsu. Ia membawa lawan tandingnya untuk menunjukkan teknik-teknik jiu jitsu yang dikuasai mulai dari memukul hingga membanting lawan.
"Bagus, bawa partner ada lagunya juga, aku suka sih, sering berprestasi lagi," puji Dian setelah Desy unjuk bakat di Gramedia Expo, Minggu (10/4/2016).
Wanita 20 tahun itu merupakan atlet jiu jitsu dari Jawa Timur. Ia sering menjadi jawara jiu jitsu tingkat nasional. Hijabers dengan sapaan akrab Desy ini mengatakan sudah berlatih ju jitsu sejak kelas lima SD. Tak jarang Desy menjadi juara satu dalam kejuaraan jiu jitsu dalam skala nasional.
Desy mengatakan kini sudah sampai sabuk biru yang artinya ia bisa disebut asisten pelatih. Wanita yang menjadi jawara Jiu Jitsu Kelas Reguler Putri Tingkat Nasional di Ponorogo itu mengaku ikut Sunsilk Hijab Hunt 2016 karena ingin membuktikan bahwa seorang atlet berhijab juga bisa menginspirasi.
"Aku mau buktikan saja kalau atlet kayak aku ini juga bisa jadi role model," ujar wanita asal Gresik itu.
Desy menambahkan, hijab tidak menjadi penghalang dirinya untuk berprestasi sebagai atlet jiu jitsu. Tak ada larangan untuk atlet jiu jitsu menggunakan jilbab. Meski demikian, ia pernah mengalami sikap yang kurang menyenangkan saat mengikuti kompetisi jiu jitsu karena penggunaan jilbabnya.
Mahasiswi Universitas Airlangga itu pernah diremehkan ketika mengikuti kompetisi jiu juitsu ketika SMA. Ia dianggap kurang berkompeten. Namun ternyata Desy bisa mengalahkan orang-orang yang meremehkannya.
"Pernah diremehin waktu SMA kalau sekarang sih sudah lumayan banyak atlet jiu jitsu yang pakai jilbab. Ada yang berkata, 'kok kamu pakai hijab begini, memang bisa?', ternyata waktu ketemu sama aku saat tanding aku bisa ngalahin mereka. Waktu itu aku di Surabaya untuk Unesa Open waktu kelas satu SMA," cerita Desy. [ detik.com ]
(aln/sra)